amis malam, 23 Juli 2026, di Jakarta Convention Center, Presiden Prabowo Subianto berpidato pada peringatan hari lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa. Di tengah pidato itu ia menyebut sebuah istilah yang sudah lama tidak terdengar di podium resmi.
“Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain,” katanya. “Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Iya, yang ikut Belanda perang lawan kita, Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan.”
Baju lain itu ia sebutkan satu per satu: wartawan, jurnalis, pengamat, LSM.
Londo ireng adalah bahasa Jawa untuk “Belanda hitam”. Istilah itu dipakai orang kampung di Jawa untuk menyebut sesama pribumi yang bekerja bagi pemerintah kolonial: serdadu bayaran, mandor perkebunan, juru tulis kantor residen, priyayi yang gajinya datang dari Batavia.
Kulitnya sama dengan kulit orang yang ia perintah, tetapi perintahnya datang dari tempat lain. Sejak awal, sebutan itu dipakai untuk menuduh.
Yang membuat kalimat presiden itu tajam adalah bagian tengahnya: “yang ikut Belanda perang lawan kita”. Ia tidak sedang berbicara tentang orang yang sekadar bekerja untuk Belanda. Ia sedang berbicara tentang orang yang mengangkat senjata untuk Belanda.
Aliansi Jurnalis Independen menyebut istilah itu merendahkan dan mendelegitimasi kerja jurnalistik, lalu meminta Prabowo meminta maaf. Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia mengingatkan bahwa kalimat seorang presiden punya bobot politik yang bisa membuka jalan bagi persekusi. Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia membacanya sebagai tanda kepala negara yang antikritik.
Tetapi ada satu hal lain yang tidak muncul dalam perdebatan minggu itu.
Ibu Presiden Prabowo bernama Dora Marie Sigar. Ia lahir pada 1921 di Langowan, sebuah kota kecil di dataran tinggi Minahasa, Sulawesi Utara, dari keluarga Kristen yang sudah beberapa turunan berada di lingkaran pemerintahan.
Ayah Dora, Philip Frederik Laurens Sigar, adalah pegawai tinggi pemerintah kolonial dan anggota Volksraad, dewan rakyat bentukan Belanda di Batavia. Dora dikirim bersekolah ke Belanda pada usia 12 tahun, belajar perawatan pascabedah di Utrecht, lalu menikah dengan ekonom Sumitro Djojohadikusumo.
Naik lima generasi dari Dora, di ujung garis keluarga itu, ada seorang laki-laki yang meninggal di Langowan sekitar Januari 1880 pada usia kira-kira 90 tahun. Namanya Benjamin Thomas Sigar.
Pada 2 Februari 1880, koran Soerabaijasch Handelsblad memuat berita kematiannya dari Manado. Isinya lima baris. Salah satu barisnya berbunyi: ia adalah salah satu pemimpin lokal yang ikut mengalami Perang Jawa melawan Diponegoro.
Ia tidak ikut perang itu di pihak Diponegoro. Ia ada di pihak sebelahnya, sebagai salah satu komandan prajurit Minahasa yang masuk ke dalam pasukan bantuan yang dikirim Residen Manado untuk membantu tentara kolonial menumpas perlawanan di Jawa. Dalam bahasa yang dipakai presiden di Senayan, ia adalah orang Indonesia yang ikut Belanda perang lawan kita.
Laporan ini bukan tentang dosa turunan. Tidak ada satu pun cabang hukum atau moral yang memindahkan tanggung jawab seorang laki-laki abad ke-19 kepada cicit-cicitnya. Laporan ini tentang istilah itu sendiri: dari mana ia datang, siapa yang sebenarnya ia tunjuk, dan apa yang terjadi pada seseorang ketika ia menjadi Londo Ireng.
“Yang ikut Belanda perang lawan kita.” Lima generasi di atas presiden, seseorang persis melakukan itu.